SOMBONG ONLINE vs KEBIJAKSANAAN OFFLINE - Pintarlah ber MEDSOS !
Pengendalian DIRI, Mengabaikan komentar, Merasa SUDAH HEBAT, PALING PINTAR, TERKENAL ?
"Tidak akan masuk syurga orang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong meski hanya sekecil Dzarrah".
SESEORANG dengan KELEBIHAN
Ada juga yang terasa bahagia bila bertemu dengan orang hebat, orang terkenal, sehingga dengan percaya dirinya mengambil foto selfie, foto bareng dengannya. Walhasil, foto tersebut ternyata dibangga banggakan juga pada temannya, depan umum. kalau ia bertemu dengan bupati umpanya, artis , presiden, atau orang terkenallah ceritanya.
Kesombongan Medsos dan Pamer Diri
Kehebatan dunia IT sekarang sekaligus menjadi tantangan berat bagi manusia. Bagi yang berhasil memanfaatkannya dengan benar maka akan memetik hasil yang positif juga.
Lain halnya bila medsos berefek negatif ke seseorang. Seperti postingan postingan yang mengandung unsur larangan agama, maka sudah jelas unsur negatifnya akan berpengaruh.
Selain dari hal negatif, postingan yang awalnya diterbitkan untuk memotivasi yang lain di pengguna medsos itu, tujuannya diharapkan positif ternyata berakhir dengan hasil negatif.
Salah satu contoh, postingan kesuksesan, keberhasilan, kekayaan dan kebahagiaan diri, diposting agar yang lain bisa mencontoh, mengikuti jejak keberhasilan, berbagi kebahagiaan, justru membuat orang sakit hati, dengki dan ill feel. Sehingga kesannya adalah pamer diri yang dikhawatirkan menjadi bahan keangkuhan si pemilik postingan.
Perlu diketahui bahwa dalam medsos terdapat status, watak dan karakter yang berbeda beda. Jangan sampai postingan tentang kekayaan kesuksesan di lihat oleh orang orang dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil yang pada akhirnya mencaci si pemilik postingan.
Entah siapa dan apa yang disalahkan, si pengunggah postingan, atau pembaca, medsos itu sendiri atau apalah terkait dengan pamer di medsos. Coba tanya google siapa yang salah ? Atau langsung ke chatGPT , mungkin ada penjelasan siapa yang salah.
Maka si pengguna medsos, sebaiknya pintar pintar bermedsos, yang baik silahkan di ambil, dan yang tidak baik untuk konsumsi pribadi, cukup di abaikan saja.
Orang sukses/hebat VS orang sukses
Ternyata aneh juga, orang yang sudah dinilai hebat, jago, ternyata minder juga bertemu sesama orang setara jagonya dengan dia, atau mungkin lebih jago.
Ketika yang satunya memposting kesuksesan dan kekayaannya di MEDSOS, ternyata di komentari negatif oleh orang yang sukses juga dengan kesuksesan yang melebihi kesuksesan si pembuat postingan. Atau dalam hal lain seperti wacana religi di beri komentar; " baru nonton 2 atau 3 video ustas dan sudah berani mengkafirkan orang "
Paling tidak dengan komentar seperti berkah, selamat dsb, untuk menghindari konflik argumen. meski demikian, hati yang berkomentar tetap risih dan iri sehingga membuatnya galau sepanjang hari.
Dalam satu kasus, misalnya di sebuah kondisi, seorang merasa sudah hebat, sehingga seseorang menemuinya dan iapun menampakkan kelebihanya, alih-alih orang yang ditemuinya malah lebih jago daripada dirinya.
Dengan contoh lain seperti, seseorang dengan lantangnya menegur dan menyalahkan seseorang dalam sebuah pertemuan sehingga orang yang di tegur tersebut merasa malu dan takut serasa tidak ada apa-apanya di banding orang yang menegur. Di lain hari, orang yang menegur tadi, ternyata menjumpai seseorang yang membuatnya merasa malu juga, ditegur dan di salahkan. Kurang lebih sama dengan kejadian saat ia menyalahkan orang lain, dan itu membuatnya kesal. Bagaimanapun anda memperlakukan orang, kapan dan di manapun , kemungkinan besar akan diperlakukan balik seperti itu juga, mungkin sebagai balasan atas atas perlakuan tersebut kepada orang lain. Kalau bukan di dunia, Allah pasti membalasnya di akhirat.
Meremehkan orang lain, dapat dinilai bahwa ia merasa lebih hebat dari yang diremehkan. Emang sih dari status sosial, seorang dengan suatu jabatan dipandang lebih tinggi dari orang yang tanpa jabatan apapun. Seperti jabatan negara dan warga biasa. Mungkinkah dengan jabatan yang ia miliki sehingga mengabaikan sapaan serta komentar dari orang yang dia tahu tidak memiliki pangkat dan jabatan.
Jangankan dalam dunia nyata, bahkan dalam dunia maya, media sosial, ada juga orang yang berpangkat, orang kaya, mengabaikan orang yang dia rasa hanya orang biasa biasa saja, tak dipandang, masyarakat biasa, atau paling tidak memiliki pangkat yang lebih rendah daripada dirinya. Status dan history medsos di komentari dan hanya di abaikan, jangan kan balas komentar, di lirik aja tidak, apalagi kasi emot icon, like atau senyum. Nihil, lewat begitu saja. Bagaimana tidak baper, orang tanya baik baik malah di abaikan, seperti itulah nasib orang biasa biasa di mata miliarder. Sebaiknya, jangan baper bila baca status histori orang di medsos. Pemutus silaturrahim handal versi ONLINE MEDSOS.
Ronaldo jago main bola, ada juga Messi pesaingnya. Ada yang Mencalonkan diri menjadi kepala daerah karena merasa dan dipandang bisa melaksanakan, ternyata banyak juga orang lain yang merasa sanggup juga jadi kepala daerah, gubernur, presiden, faktanya adalah adanya lawan dalam proses pencalonan.
Ada yang Pintar dalam dunia pendidikan, nilai tertinggi , ternyata masih ada juara lain yang lebih tinggi nilainya daripada dia. Rossi jago balap motor, ada juga lorenzo penantangnya. Taufik hidayat jagonya bulu tangkis, ada juga lindang sang juara dunia.
Dalam sebuah cerita, ada seorang yang sangat pelit, hingga permintaan apa pun yang berkaitam dengannya selalu di tolak. Hingga pada suatu ketika, orang yang pelit ini hendak bepergian dan ternyata di tengah perjalanan, ban motor kempes dan kurang angin, sehingga salah seorang menunjukkan kepadanya sebuah rumah yang penghuninya memiliki pompa angin. Di saat si pelit ini tiba di rumah pemilik pompa angin, ia hendak meminjam :
Si pelit ; bisa pinjam pompa angin ?
Pemilik pompa : maaf, pompa ini hanya untuk keluarga kami.
Si pelit : dasar bapak pelit, pinjam pompa saja tidak bisa. ( Dengan nada yang marah)
.....
Ternyata, orang pelit tidak suka bila ia juga di tolak. Seperti juga paragraph sebelumnya, orang merasa pintar ternyata masih ada yang lebih pintar. Orang yang berjiwa kritik ternyata tidak suka bila dikritik. Orang berwatak keras pantangan sekali bertemu dengan orang yang keras juga. Pantas saja bila Ronaldo dan Messi selalu dibanding bandingkan dalam dunia sepak bola, entah siapa yang terbaik antara keduanya.
Orang yang dinilai pintar, kadang merasa dirinya tidak seperti apa penilaian orang terhadap dirinya, berbeda dengan orang yang merasa dirinya pintar tetapi meski tanpa penilaian tetap juga merasa bahwa dirinyalah yang lebih pintar, lebih jago, terhebat dan terkuat.
Masih ingat dengan cerita raja Namrud, yang merasa dirinya jago, hebat, bahkan dengan seekor hewan kecil masuk dalam hidungnya ( ada yang bilang nyamuk ) pun tak mampu di hadapinya hingga hewab kecil itu tinggal dalam kepalanya sampai 400 tahun dan membuatnya meninggal karena itu.
Keangkuhan firaun yang mengaku tuhan, di hadapkan langsung dengan Nabi Musa, bahkan firaun tak mampu menyelamatkan pasukannya dari air laut yang menenggelamkannya.
Masih ingat film mumi ? Seorang mumi saja mampu mengendalikan membuat ombak air sehingga membuat air sungai surut,. beda dengan kemampuan firaun yang mengaku tuhan namun tidak bisa berbuat apa apa dalam air.
Pernahkah anda merasa lebih unggul dalam sebuah kondisi, dan ternyata ada yang lebih hebat dari anda ? Bagaimana perasaan anda ?
Coba pikirkan dengan kondisi yang berbeda, yakni bukan lagi merasa lebih baik, tapi lebih buruk.
Dalam satu kasus umpamanya 2 orang teman yang berjalan di sebuah tempat. seorang yang mengatakan bahwa saya lebih miskin daripada anda, anda kurang cocok ditempat yang biasa biasa ini, pilihlah tempat yang lebih baik dan elegan, lebih baik saya yang di sini saja. Mungkin dengan maksud untuk merendahkan diri.
Atau contoh lain; tolong maafkan diri saya, saya tidak lagi bisa bersama sama, pilihlah yang lain, saya orang kurang mampu, kurang tampan/ganteng, masih ada yang lebih baik dari saya. Cukup sampai di sini saja.
EXPLANATION : Sebuah Perspektif
Paragrap - paragrap di atas merupakan inputan contoh yang tak beraturan terkait judul artikel ini, "Seorang dengan Kelebihan".
Makna judul tulisan ini lebih mengarah kepada sifat kebanggaan seorang atas kelebihan yang dimiliki dan mampu membuatnya bangga dan merasa sombong atau pun merendah diri. Sehingga oleh karenanya seorang bisa bertindak meremehkan dan mengucilkan orang lain.
Dalam sebuah ungkapan :
"Janganlah Memandang ke atas dan Menengoklah ke bawah".
Ungkapan ini lebih sering di tafsirkan ke arah kemampuan finansial sesorang. Ungkapan ini di pahami bahwa terkait ekonomi atau harta maka seseorang sebaiknya tidak memperhatikan orang lain yang lebih kaya darinya karna dapat membuatnya sakit hati.
Berbeda dengan ungkapan "menengoklah ke bawah justru di harapkan memperhatikan orang yang kondisi ekonominya lebih rendah daripada dirinya karena mampu merespon rasa terus bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini.
Sikap angkuh, sombong merasa paling ter... dan ter.... , cenderung memiliki efek negatif lebih banyak daripada efek positif pada diri seseorang. Kadang orang seperti ini dijauhi dan dihindari disebabkan karena orang tersebut sering sok pintar dan sering merendahkan orang lain.
Perilaku ini tentunya berakibat fatal bagi perspektif agama karena mampu memutus silaturrahim antar sesama manusia. Intinya adalah lebih banyak yang tidak menyukai sifat angkuh ini.
Balasan yang setimpal hanya Allah sebaik baiknya dan maha adil sebagaimana potongan ayat berikut :
".......adapun orang yang menyombongkan diri maka akan di azab dengan siksaan yang pedih...."
Terlalu merendah diri juga kurang baik, mungkin karena ada imbuhan kata ter.... Terlalu merendah, sehingga maknanya menjadi negatif. Merendah bukan berarti tidak mampu tidak pintar, akan tetapi karena ia terlalu merendah sehingga tidak terlihat apa apa pada dirinya, padahal ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Atau mungkin seseorang terlihat merendah diri karena memang ia sedang putus asa.
Dalam sebuah ayat, penulis menampilkannya sebagai berikut :
Al - Baqarah : 214
( Klik Gambar untuk teks lebih jelas )
Dalam ayat di atas, berdasarkan kronologi bahwa kaum muslimin pernah merasakan kemiskinan dan kesusahan yang membuat mereka mengeluhkan kondisinya dengan bertanya tanya, "kapan datang pertolongan Allah "??
Ayat ini dipahami ulama, dan dalam tafsir kementerian agama dijelaskan bahwa ayat ini turun untuk memotivasi kaum muslimin bahwa apakah mereka mengira akan masuk surga sementara Allah belum menguji mereka dengan penderitaan yang mendalam sebagaimana yang dirasakan pada umat umat sebelum datangnya islam.
Secara sepintas dapat dipahami bahwa bekerjalah berusahalah maka Allah akan membalas segalanya. Semakin tinggi cita cita maka semakin besar juga tantangannya.
Secara sekilas juga dapat menjadi ibarat bahwa apakah dengan sudah merasa pintar, merasa alim, merasa hebat mampu memberikan kebahagiaan bagi seseorang ??
Atau justru memberi mudharat dampak negatif yang tak kunjung memberi solusi dalam sebuah situasi dan kondisi.
Dalam ilmu usul fiqih, bahwa bila sebuah perkara memiliki dampak negatif lebih banyak dibandingkan dampak positifnya maka segera ditinggalkan.
Olehnya itu, berhentilah bersikaf angkuh, sombong, merasa paling ter.... Dan ter..... karena itu tidak baik . Untuk diri sendiri dan orang lain.
Akhirul kalam,... "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka sebaiknya berkata baik, bila tidak mampu maka DIAM SAJA."
Comments
Post a Comment