SOLUSI MENCIPTAKAN KEDAMAIAN, KETENTRAMAN, KEAMANAN BERMASYARAKAT
Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh
Alhamdulilah rabbil alamin, wabihi nastainu ala umuriddunia waddin, wasshalatu wassalamu ala asyrafil anbiyai walmursalin sayyidina Muhammadin waala alihi waashabih watabiin watabiuttabiin wamantabiahu bi ihsanin ila yaumiddin. Ammbaad.
Penulis masih mengawali dengan mengucapkan Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan nikmat kesehatan, kesempatan dan umur yang panjang sehingga masih sempat beraktifitas hingga saat sekarang ini.
Selanjutnya, penulis mengajak agar senantiasa mengirimkan salawat dan salam kepada baginda, sang pujaan hati seluruh orang islam karena telah membimbing umatnya dari alam kegelapan hingga menuju cerahnya akhlakul karimah, sebaiknya mencontoh beliau, memuji beliau, sahabatnya, tabiin dan tabi'ut tabiin dan seluruh orang yang mengikuti kebaikannya hingga akhir zaman.
Saat ini, penulis akan berbagi 1 atau 2 hal sebagai solusi alternatif yang dapat di tempuh agar kehidupan warga agar selalu dalam kondisi yang baik baik saja. Bahkan kedamaian, keamanan, ketentraman senantiasa mengintai orang yang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Solusi yang ditawarkan penulis kali ini bukan merupakan solusi hal yang mutlak atau pasti. Akan tetapi, bila di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari maka yakin dan percaya, akan memberikan pengaruh positif bagi orang yang mengaplikasikannya dalam kehidupan , baik pribadi, keluarga, teman, tetangga, kerabat, masyarakat bangsa dan negara.
Untuk mencapai suatu kondisi sosial yang baik, damai, tentram dan aman, penulis menyarankan poin poin terkait sifat yang biasa di peringatkan oleh Nabi Saw :
1.) An Laa Tatanafazuun
"Hindari Persaingan Tidak Sehat"
Persaingan dalam artian ada subjek dan ada juga objek. Subjek berarti Orang yang merasa bersaing (contoh si A) dan Objek berarti orang yang disaingi ( si B). Dalam hal ini, ada minimal 2 orang terlibat dalam poin ini dan bisa saja lebih, karena kalau 1 orang saja tidaklah bersaing dengan dirinya sendiri. Yang ada adalah orang yang berlari mengejar bayangannya dan ini bukan pembahasan penulis.
Persaingan tidak sehat itu seperti apa ?
Yakni si A merasa tersaingi dengan si B sehingga dalam sebuah situasi si A ingin melakukan hal yang lebih baik dari si B dengan cara yang tidak normal, di luar batas sewajarnya, berlebihan, bahkan melanggar aturan aturan hukum perundang undangan negara dan hukum agama.
Sebaliknya pun demikian, si B tak mau kalah bagus akhirnya menempuh cara yang lebih buruk lagi untuk mengalahkan si A. Yang pada akhirnya, keduanya saling singgung menyinggung, saling mengeluarkan kata kata kasar dan memicu emosi maka terjadilah keributan, pemukulan, bahkan pembunuhan.
Pada awalnya hanya terjadi antara ai A dan si B, lama kelamaan merembes ke suami atau istrinya, anaknya, paman, tanten, orang tua dan seluruh keluarga besar, semoga tidak sampai memicu saling serang menyerang yang melibatkan puluhan hingga ratusan orang.
Dalam satu keluarga saja, anak pertama janganlah bersaing dengan anak kedua atau anak yang lainnya. Adek bersaing sama kakanya sendiri dengan cara yang tidak baik.
Bila persaingan tidak sehat ini terjadi, baik dalam lingkungan pribadi, penjual dengan penjual, tetangga, oraganisasi, pendidikan, instansi, pejabat, partai politik, oraganisasi masyarakat, organisasi agama, persaingan tidak sehat dalam lingkup kepemimpinan. Maka persiapkan situasi dalam ketidakstabilan, amburadul, tidak tertata bahkan mengarah ke kehancuran.
Contoh kasus : seorang penjual kaki lima dalam sebuah perumahan yang berinisial A hidup bersama keluarganya dalam 1 atap rumah yang beserta dengan jualan jualannya di teras rumah tersebut.
Rumah yang si A tempati berada 1 lorong dengan penjual kaki lima juga milik si B yang berjarak sekitar 20 meter. Mungkin di perantarai sekitar 3 rumah dari rumah tempat tinggalnya.
Si A dan si B memiliki usaha yang sama, mereka jualan seperti barang campuran kerupuk atau cemilang dan perlengkapan rumahan. Hanya saja, si A memiliki jualan dengan modal kecil sehingga barang barangnya terlihat lebih sedikit dibandingkan dengan si B yang sepertinya memiliki banyak modal karena terlihat dari stok barang barangnya lebih ramai dan padat dari si A.
Meski demikian, si A yang memiliki jualan sedikit tapi memiliki teman yang banyak yang sering nongkrong di sekitar rumahnya. Walhasil, teman temannya lebih sering belanja pada si A ketimbang belanja pada si B.
Tak lama kemudian, si B menegur orang orang yang sering nongkrong di sekitar jualan si A dengan maksud membubarkan tempat nongkrong mereka. Meski begitu, jualan si B tetap saja sepi pembeli.
Si B kemudian menempuh cara lain agar pembeli di si A berpindah ke si B dengan cara pakai dukun. Konon, ada cara dukun membuat jualan orang lain sepi peminat dan sebaliknya jualan orang yang minta tolong menjadi laris manis (penglaris).
Jualan si B sempat berubah jadi ramai pembeli. Namun tidak bertahan lama, karena si A curiga kepada si B memakai ilmu santet atau sihir dan semacamnya. Karena kecurigaan itu, si A datang ke rumah si A dengan membawa benda tajam kepada si B dan menuduh si B telah mensantet/guna-guna jualan si A karena pembelinya jadi sepi dan berpindah belanja ke si B.
Akhirnya, bermula dari kecurigaan, kecemburuan, persaingan tidak sehat dengan cara pakai dukun, membuat kedua tetangga ini menjadi cekcok, berselisih, bahkan saling pukul hanya karena persaingan usaha yang tidak sehat. (End)
Persaingan itu biasa untuk mencapai yang terbaik, dengan cara yang sesuai dan sejalan dengan aturan. Akan tetapi jika sudah tidak sehat, seperti saling sogok menyogok, saling menjatuhkan, menggunakan cara yang berbahaya seperti mengancam menggunakan senjati, memanafaatkan sihir, maka inilah yang tidak sehat. Naudzunillah minzalik.
Sepertinya, jika di analisa, persaingan ini di picu karena faktor perasaan, cemburu ataupun iri hati. Olehnya itu, poin selanjutnya yang di tawarkan oleh penulis yakni :
2.) An Laa Tatahasadun
'Janganlah kalian Saling Iri Hati"
Iri hati berupa kecemburuan akan situasi orang lain. Faktor cemburu karena orang lain lebih baik dari dirinya.
Iri hati itu kadang di tampakkan dan kadang juga dipendam, dan keduanya berbahaya. Bagi yang memendam memiliki efek negatif pada dirinya seperti gangguan fisikologi,gangguan perasaan dan kejiwaan. Serta yang menampakkannya akan lebih berbahaya karena mampu memicu pertikaian, cekcok, perang mulut, baik pada orang yang dicemburui bahkan orang disekitar dirinya dan berpotensi menghasilkan kekerasan fisik.
Iri hati yang ditampakkan terkadang membawa ke kondisi persaingan. Hati cenderung mengarah ke sesuatu yang buruk dan disebut irihati yang buruk, seperti iri karena terangga lebih kaya dan mampu beli mobil akhirnya marah kepada keluarganya, suaminya karena tidak bisa membeli mobil dan mereka pun bertengkar.
Selain iri yang buruk, terkadang juga irihati mengarah ke hal yang baik seperti iri tidak akan kalah beribadah, tidak akan kalah belajar. Dan irihati yang merusak adalah iri hati yang buruk.
Sama seperi persaingan tidak sehat, iri hati ini tidak hanya menjangkit individu seseorang, bahkan keluarga, kelompok, organisasi, partai, instansi, perusahaan yang bisa melibatkan kekacauan orang banyak.
Jika terjadi demikian, kerukunan, ketentraman, kedamaian, kebahagiaan, akan menjauh.
Olehnya itu, saran dari penulis adalah amalkan ayat berikut :
"Wa'tashimuu bi hablillahi jami'an walatafarraqu"
Berpegang teguhlah pada agama Allah dan jangan bercerai berai.
Sebagaimana Rasulullah memberi pesan untuk berpegang teguh pada 2 hal, yakni Alquran dan Hadis Rasulullah saw.
Comments
Post a Comment