Kenapa PUASA RAMADHAN Dihadiahkan TAQWA ?
RAMADHAN 2025 M - Kenapa Mesti Ibadah Puasa dapat predikat taqwa ? Taqwa itu Seperti apa ?
Sebelum ini, mengucapkan alhamdulillah terlebih dahulu karena masih mendapatkan umur yang panjang, kesehatan serta iman dam taqwa kepada Allah swt, sehingga masih bisa bernafas dan beribadah di bulan puasa ini, Ramadhan tahun 2025 ini. Salawat dan salam pastinya tetap terkirim kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai tauladan umat Islam.
Puasa, sepertinya sudah menjadi topik utama yang tranding seluruh dunia. Khususnya ketika bulan suci ramadhan tiba.
Dengan sedikit mengingatkan, puasa itu dapat berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Sementara taqwa itu adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Tanpa ada batas waktu, taqwa itu istiqamah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah sepanjang waktu.
Di sini, puasa itu sendiri adalah salah satu ibadah perintah kewajiban dan memiliki syarat agar menjauhi segala larangan yang membatalkan puasa seperti menahan syahwat baik orang yang sudah menikah (berhubungan badan dengan istri), apalagi yang belum menikah karena pasti berzina.
Dari sini, secara defenisi, orang barpuasa itu terlihat sudah menjalankan defenisi taqwa, maka secara Tidak langsung orang yang berpusa itu sudah bertaqwa pada saat ia sedang berpuasa. Meski orang yang bepruasa hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa selama 12-14 jam saja, semtara taqwa sebaikanya nonstop selama masih hidup di dunia ini. Bisa jadi, puasa itu adalah latihan bertaqwa selama 14 jam sehigga akan terbiasa bila berpuasa berulang kali, seperti halnya pada bulan ramadhan dengan durasi 30 hari.
Pandangan ulama mengatakan bahwa jalan pintas untuk menjadi orang bertaqwa adalah dengan berpuasa.
Dalam bulan suci ramadhan, ada 1 ayat yang paling familiar, setiap kali ramadhan tiba, maka ayat itu selalu di bacakan di mesjid mesjid, majelis taklim, dan pertemuan pertemuan lain seperti nasehat buka puasa bersama dan lain lain. Sering juga di lantunkan di medsos medsos, jaringan internet, situs dan lain lain.Ayat yang di maksud ialah :
"Ya Ayyuhalladzina amanu kutiba alaikum shiyam, kama kutiba alalladzina minqabelikum laallakum tattaqun".
Kata "laallakum tattaqun" agar kalian bertawa sepertinya merupakan syarat dari taqwa itu adalah puasa. Kenapa mesti puasa, kenapa bukan shalat atau zakat kemudian menjadi syarat laallakum tattaqun.
"Laallakum tattaqun" hanya di ulang 6 kali dalam al qur'an, semuanya dengan konteks yang berbeda, sebagaimana berikut :
Pertama, ayat tentang perintah puasa di atas tadi. Dalam surat al baqarah : 183
Kedua, "laallakum tattaqun" juga terdapat pada al baqarah juga tapi dalam ayat 21 :
"Ya ayyuha annasu'budu rabbakumulladzi khalaqaku wallazina minqabelikum laallakum tattaqun"
Ayat ini secara umum memberikan perintah ibadah , tanpa menyebutkan jenis ibadah apa, namun secara umum tanpa terkucuali. Seperti shalat, zakat, puasa, haji, serta ibadah lain.
Ketiga, laallakum tattaqun ditemui juga masih dalam surat al baqarah di ayat lain yakni ayat 63 :
"Wa idz akhadzna mitsaqakum warafa'na fauqakumut thur, khudzu ma atainakum biquwwatin wadzkuru maa fihi laallakum tattaqun"
Makna Ayat ini dalam penekanan terhadap apa yang telah di syariatkan Allah dalam al qur'an dan harus dipegang kuat, komitmen.
Dalam artian, menjaga perintah Allah agar tetap diamalkan, konsisten beribadah. Seperti halnya defenisi taqwa untuk mengerjakan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan sepanjang waktu. Hanya saja masih secara umum tanpa memberi lebel indikasi ibadah tertentu.
Keempat, laallakum tattaqun terdapat juga dalam Q.S. al baqarah lagi di ayat lain yakni ayat 179 :
"Walakum fil qishashi hayatun ya ulil albab, laallakum tattaqun"
Ayat ini terkait dengan hukum qisas, di mana pada ayat sebelumnya, ayat 178, bila ada seorang mukmin membunuh maka akan di qisas semisal yang ia lakukan, orang merdeka dengan merdeka, perempuan dengan perempuan, hamba dengan hamba, bilamana keluarga korban keberatan dan tidak memaafkan. Kecuali keluarga korban memaafkan maka bisa diganti dengan denda tebusan sebagai keringan dari Allah.
Apa hubungan Hukum qisas dengan taqwa ?
Dalam tafsir kemenag, dijelaskan bahwa dalam tafsir al manar, hukum qisas sebenarnya hukum yang tepat di saat kenabian. Hukum qisas dalam al quran tergolong tindakan penegakan hukum dalam kategori sedang, syariat al quran dalam garia tengah pada saat itu di masa jahiliyah. Di mana tindakan memenjarakan ( penjara ) tidak membuat jera para pelaku kriminal, Bahkan ada yang sengaja masuk penjara hanya untuk perlindungan dan pelayanan hidup cuma cuma. Untuk lebih panjang lebarnya, silahkan buka tafsir al manar terkait hukum qisas.
Inti yang di pahami adalah hukum qisas untuk membuat pelaku pembunuhan takut dan tidak melakukannya lagi, atau mencegah orang mukmin untuk semena mena melakukan pembunuhan, karena akan di qisas, maka taqwa atau takut akan hukum Allah akan terbentuk dari qisas dalam perihal pembunuhan.
Taqwa berlaku umum untuk menjauhi segala yang keji dan mungkar, namun qisas hanya untuk hukuman pembunuhan, atau dalam ayat lain tentang penganiayaan, potong tangan di balas potong tangan, dan lain lain. Hanya spesifik saja. Tidak berlaku untuk pelanggaran hukum wajib , seperti shalat, dosa besar seperti musyrik, zina, maka dosa disini tidak berlaku qisas.
Jadi laallakum tattaqun di sini adalah TAQWA untuk pembiasaan komitmen Takut untuk tidak berbuat penganiayaan apalagi berakhir dengan pembunuhan dengan ancaman qisas.
Kelima, laallakum tattaqun juga terdapat dalam QS al an'am : 153 :
" Wa anna Hadza shiratiy mustaqiman fattabi'uhuh wa laa tattabi'us subula fatafarraqa biqum an sabilih dzalikum washakum bihi laallakum tattaqun"
Sungguh inilah jalan ku yang lurus maka ikutilah ! Jangan kamu mengikuti jalan jalan lain yang mencerai beraikanmu dari jalan-Nya, demikian itu di perintahkan kepada mu agar kamu bertaqwa.
Ayat ini hampir sama dengan poin ketiga yang berkaitan dengan berpegang teguh pada pedoman syariat islam (alquran dan hadis), dan ayat ini melarang mengikuti pedoman selain alquran agar tidak terpecah belah antara sesama orang mukmin.
Yakni dalam ayat ini, predikat taqwa akan diraih dengan menjalankan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah secara umum, tanpa menyebut satu indikator ibadah yang bisa mengantarkan meraih taqwa. Berbeda dengan ayat tentamg puasa di atas.
Keenam, laallakum tattaqun juga terdapat dalam QS al a'raf: 171,
"Wais nataqnal jabala fauqahum, kaannahu dsullatun, wadsannu annahu waaqiu bihim, khudzu maa atainakum biquwwatin, wadzkuru maa fihi laallakum tattaqun"
Ayat ini berkaitan dan orang yahudi saat pertama kali menerima kitab Taurat. Dalam tafsir Quran kemenag dengan model tafsir tahliliy, yakni di saat bukit sinai di angkat dari akarnya kemudian di simpan di atas kepalanya, ia bagaikan gumpalan awan yang amat gelap dan mereka yakin gunung tersebut akan jatuh menimpanya , kemudian Allah berfirman berpegang teguhlah terhadap apa yang telah diberikan kepadamu. Mereka melihat gunung itu terapung di udara, bahwasaanya ini membuat mereka sadar bilamana lalai dari perintah dan ancaman Allah maka mereka pasti akan binasa.
Ayat ini memberikan pengajaran bahwa berpegang teguh akan perintah Allah, dan takut akan ancaman Allah dapat di hadiahkan dengan predikat TAQWA.
Ada satu tambahan ayat, namun damir yang digunakan bukan kum, tapi damir hum, yakni laalahum yattaqun, ada dalam QS Al Baqarah 187, tentang lailatus siyam, malam hari waktu puasa bulan ramadhan, di boleh berjimak dengan istri. Akan tetapi ini masih berkaitan dengam puasa.
POIN PENTING !
Dari semua ayat ( 6 ayat ) tentang "agar kamu bertaqwa, hanya 2 ayat yang menyebut langsung suatu tindakan sehingga di akhiri petunjuk "agak kamu bertaqwa" yakni :
1) Puasa
Puasa adalah ibadah yang dilaksanakan dengan durasi waktu yang lama sekitar 12- 14 jam.
Selama itu pula, orang yang berpuasa akan menjauhi larangan Allah. Bila dalam bulan Ramadhan, maka di rutinkan sebanyak 30 hari.
Wajar saja, bila di anjurkan berpuasa sunnat, di senin-kamis di luar bulan ramadhan. Atau puasa puasa lain selain bulan ramadhan, seperti sya'ban, syawal, dan lain lain, agar terus terlatih menjadi orang yang bertaqwa.
Begitpula orang yang berpuasa, di anjurkan untuk membaca al quran, memperbanyak dzikir, sedekah, dan ibadah ibadah lain, menjaga diri dari banyak gangguan gangguan yang memakruhkan puasa, melihat hal hal porno, atau agar pahala, pokoknya semua tubuh anggota tubuh berpuasa menjauh dari yang tidak baik, dan melakukan yang baik baik, agar pahala puasa semakin maksimal, dan itu dilakukan selama seharian 12-14 jam.
Jadi, sangat masuk akal bila ulama memandang bahwa puasa adalah jalan tercepat yang mampu menjadikan orang bertaqwa kepada Allah.
2) Qishas
Qishas ini salah satu syariat yang spesifik mampu mengantarkan ke taqwa tapi hanya berlaku untuk sebagian tindakan manusia saja, sebagaimana dalam ayat di atas terkait pembunuhan.
3) Ayat yang lain terkait ibadah secara umum, yakni berpegang teguh atas petunjuk Allah, mengamalkan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Tentunya seperti itulah yang di inginkan agar bisa komitmen bertaqwa. Hanya saja, dalam kontek" agar kamu bertaqwa" , ibadah puasa sedikit berbeda , seakan akan ia adalah ibadah istimewa, sehingga dengan melaksanakannya maka orang yang berpuasa mampu mencapai TAQWA. Sebagai mana ulama mengatakan bahwa puasa merupakan jalan pintas untuk bertaqwa. Karena puasa disini adalah latihan untuk menjadi orang bertaqwa.
BACA JUGA : Keistimewaan Bulan Ramadhan
Comments
Post a Comment